Senin, 21 September 2020

 KWU2020_5A_SERTA ULINA SILANGIT 

INSPIRASI TOKOH ENTREPRENEUR

Achmad Zaky


Sumber : https://twitter.com/achmadzaky 

Achmad Zaky lahir di Sragen, 24 Agustus 1986. Achmad Zaky merupakan salah satu entrepreneur muda di Indonesia. Beliau adalah pendiri Bukalapak yaitu salah satu toko online marketplace terbesar dan terkemuka di Indonesia. Pada Marketplace ini terdapat jual beli secara online yang telah memiliki lebih dari jutaan ribu customers.

Karier Achmad Zaky diawali dengan mendirikan sebuah usaha startup dan berharap usaha ini dapat bermanfaat bagi banyak orang. Lantas selanjutnya Zaky mencoba mendirikan usaha Bukalapak yang dirintisnya pada tahun 2011 saat usianya 25 tahun. Zaky percaya diri akan usaha yang dirintisnya meskipun awal berdirinya usahanya tidaklah mudah.

Awal mula usaha startup ini belumlah familiar dimata publik hal ini yang sedikit menyulitkan Zaky. Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung dengan Bukalapak. Namun klien pertamanya hanyalah seorang pedagang kecil yang mengaku dagangannya di toko kurang laku.

Zaky pun akhirnya melihat peluang dari pedagang yang mana usahanya belum berkembang agar bergabung di Bukalapak. Dengan pesatnya perkembangan internet pada saat itu, startup Zaky yang awal mula dirintisnya di mall kini menjadi semakin berkembang pesat hal ini ditandai dengan banyaknya minat investor yang ingin menanamkan modalnya.

Saat ini Bukalapak menjadi salah satu dari beberapa startup di Indonesia. Hal ini terjadi tidak lepas dari kerja keras dan pantang menyerah dari sang pendiri, yakni Achmad Zaky. Majalah Globe Asia pada pertengahan 2018 mempublikasikan daftar 150 orang terkaya di Indonesia dan berkat kerja keras Zaky menuntunnya masuk dalam daftar tersebut.

Mengkutip dari daftar yang telah dibuat Globe Asia, bahwa jumlah kekayaan Zaky diperkirakan mencapai US$ 100 juta atau setara dengan Rp 1,5 triliun pada saat daftar tersebut dibuat. Zaky juga masuk dalam daftar 10 pengusaha muda berusia di bawah 30 tahun paling berpengaruh di Asia Tenggara tahun 2015 yang dibuat oleh media online Tech in Asia.

Mengapa memilih Achmad Zaky sebagai panutan?

Saya tertarik dengan Ahmad Zaky sebagai panutan entreupreuner muda yang sukses,  karna menurut sudut pandang saya beliau adalah seseorang yang pekerja keras dan peka terhadap lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilihat saat beliau memulai merintis usahanya pada tahun 2011 dengan melihat peluang usaha untuk pedagang yang usahanya belum berkembang dan memanfaatkan teknologi internet semaksimal mungkin demi menunjang usaha marketplacenya.

Beliau juga memanfaatkan skill dan kemampuan komputer yang telah ia miliki sewaktu masa sekolah untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Hal ini yang membuat saya ingin mengembangkan skill dan kemampuan yang saya miliki untuk dapat menunjang dan  mengembangkan karier saya dimasa depan.

Ahmad Zaky juga merupakan figur panutan yang telah membuat saya  bercita-cita ingin mengkopi kesuksesannya dimasa depan. Beliau adalah entreupreuner muda yang telah sukses di Indonesia. Berpikir kreatif dan inovatif adalah hal yang tidak dimiliki semua orang namun beliau memilikinya dan dapat melakukannya dan menerapkannya dalam berkarier. Semangat pantang menyerah yang dimiliki beliau yang menjadi motivasi bagi saya untuk memulai usaha saya.

KWU2020_5A_SERTA ULINA SILANGIT

Rabu, 20 Mei 2020

MEDIA PEMBELAJARAN ARTHROPODA

MEDIA PEMBELAJARAN ARTHROPODA-UAS KEANEKARAGAMAN INVERTEBRATA
20 Mei 2020
Nama : Serta Ulina Silangit
Kelas : 4 A
NIM : 2224180068
Mata Kuliah : Keanekaragaman Invertebrata
Dosen Pengampu : Dr. Hj. Enggar Utari, M. Si.
UAS Keanekaragaman Invertebrata
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : X/2
Materi Pokok : Arthropoda
Alokasi Waktu : 45 menit
A. KOMPETENSI INTI
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KOMPETENSI DASAR
3.9 Mengelompokkan hewan ke dalam filum berdasarkan lapisan tubuh, rongga tubuh simetri tubuh, dan reproduksi.
INDIKATOR
3.9.1 Siswa diharapkan dapat menguasai klasifikasi hewan yang termasuk dalam filum arthropoda.
3.9.2. Siswa diharapkan dapat menguasai ciri-ciri dan sistem organ dari masing-masing kelas arthropoda.
3.9.3. Siswa diharapkan dapat menjelaskan dan menyebutkan hewan-hewan yang termasuk dalam kelas arthropoda dalam kehidupan sehari-hari.
C.  TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Siswa diharapkan dapat menguasai klasifikasi hewan yang termasuk dalam filum arthropoda dengan menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan oleh guru.
2. Siswa diharapkan dapat menguasai ciri-ciri dan sistem organ dari masing-masing kelas arthropoda dengan menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan oleh guru.
3. Siswa diharapkan dapat menjelaskan dan menyebutkan hewan-hewan yang termasuk dalam kelas arthropoda dalam kehidupan sehari-hari dengam menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan oleh guru.
D. MATERI PEMBELAJARAN

ARTHROPODA

          Arthropoda adalah hewan yang memiliki ciri kaki beruas dan bersegmen. Tubuh arthropoda simetri bilateral dan tergolong hewan tripoblastik. Rangka luar hewan ini berkitin yang mengelupas berfungsi untuk mempermudah pergerakan bagian segmen tubuhnya. Arthropoda tidak memiliki nefridia. Arthropoda memiliki 4 kelas, yaitu crustaceae, arachnoidea, insecta, dan myriapodia.

·       - Crustaceae
Crustaceae meliliki tubuh yang terbagi menjadi kepala (thorax) dan perut (abdomen), namun terkadang kepala dan dada bersatu membentuk cephalothorax. System reproduksinya hampir semua crustaceae kecuali teritip dapat dibedakan antara individu yang berkelamin jantan dan betina (gonokoris) dan bereproduksi secara seksual. Sedangkan system eksresinya menggunakan pasangan kelenjar yang berada di antenna dan rahang atas. Lalu system peredaran darahnya terbuka. System sarafnya berupa tangga tali yang berlangsungnya pengumpulan dan juga penyatuan ganglion dan dari pasangan-pasangan ganglion akan keluar sarafmenuju ke tepi. Sub kelas crustaceae seperti malacostraca ex. kepiting, cirripedia ex. Lepas fascicularis, ostacoda ex. udang biji, copepod ex. udang monster, dan branchiopoda ex. kutu air.
(KEPITING)
(Lepas fascicularis)
(Udang Biji)
(Udang Monster)
(Kutu Air)


·       -- Arachnoidea
Arachnoidea memiliki struktur tubuh yang terdiri dari chepalothorak (kepala-dada). Tidak memiliki sayap maupun antenna. Terdapat 4 pasang kaki yang letaknya dibagian chepalothoraks. Arachnoidea dapat hidup di darat. System reproduksinya bersifat gonokoris yang dapat dibuahi secara internal, kopulasi dapat dilakukan oleh pedipalpus, yang mana reproduksinya secara ovipar,ovovivipar ataupun vivipar. System peredaran darah terbuka. System ekskresi dikeluarkan oleh pembuluh Malpighi. System saraf mirip dengan crustaceae yang terdiri dari ganglion dan simpul saraf. Sedangkan system pencernaan terdiri dari, mulut, faring, esophagus, lambung, dan intestine. Sedangkan system pernafasan menggunakan paru-paru buku ataupun trakea. Arachnoidea diklasifikasikan menjadi 3 ordo, yaitu scorpionida ex. kalajengking, arachnida ex. laba-laba serigala, dan arcarina ex. tungau kudis.

·      -- Insecta
Ciri khusus insect ialah kaki yang berjumlah 6 buah atau hexapoda, tubuhnya terdiri dari caput, thorax dan abdomen. System reproduksinya menggunaskan alat kelamin yang terpisah antara jantan dan betina, yang mana pembuahan terjadi secara internal. System peredaran darah terbuka dengan system saraf mirip crustaceae. System pernafasan menggunakan tracea. Habitatnya di dalam air, tanah, lumpur. Insect dibagi menjadI 2 kelas, yaitu apterygota (Thysanura, Diplura, Protura, Collembola) dan pterygota (Orthoptera ex.belalang, Lepidoptera ex. kupu-kupu, Odonata ex. capung, Neuroptera ex. rayap). Metamorfosis pada insecta ada 4, yaitu holometabola, paurometabola, hemimetabola, ametabola.

 


·       - Myriapoda
Myriapoda mempunyai tubuh yang terbagi menjadi banyak ruas (±10-200 segmen), dengan kaki yang keluar pada setiap ruasnya. Memiliki bentuk tubuh simetri bilateral. Dengan ukuran tubuh yang bervariasi, mulai dari mikroskopis sampai dengan 30cm. terdapat 1 pasang antenna pada bagian kepala yang berguna sebagai alat peraba dan terdapat sepasang mata tunggal. Kepala dapat dibedakan dengan jelas namun tidak dengan dada dan abdomen. Habitatnya di tempat lembab, tropis, tumpukan sampah. System pernapasan menggunakan trakea. System saraf mirip dengan crustaceae. System pencernaan menggunakan alat pencernaan komplit. System eksresi dikeluarkan menggunakan pembuluh malpghi. System peredaran darh terbuka. System reproduksi bersifat gonokoris, yang dibuahi secara internal, yakni secara vivipar ataupun ovipar.
(Lipan)
(Kaki Seribu)



Daftar Pustaka
Asfihan Akbar. (2019). Crustaceae Adalah : Karakteristik, Ciri, dan Klasifikasi Crustaceae. Online Diakses pada 19 Mei 2020 pukul 14:00 WIB
Bitar.(2019).Pengertian Arthropoda. Online https://www.gurupendidikan.co.id. Diakses pada 19 Mei 2020 pukul 12:31 WIB
Setiawan Parta. (2019). Ciri Insecta (Serangga) dan Klasifikasinya. Online https://www.gurupendidikan.co.id. Diakses pada 19 Mei 2020 Pukul 12:45 WIB
Staff Bukan Arjuna. (2020). Pengertian, Klasifikasi, & Ciri-ciri Hewan Arthropoda. Online https://www.bukanarjuna.com. Diakses pada 19 Mei 2020 pukul 15:21 WIB

E. MEDIA YANG DI GUNAKAN
Media pembelajaran yang telah disediakan oleh guru berfungsi agar siswa dapat menguasai materi arthropoda dengan mudah. Media yang digunakan dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Pada media pembelajaran disertakan juga bahan evaluasi pembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan berfungsi untuk mengukur tingkat kemajuan belajar siswa.

Berikut adalah video yang telah dibuat oleh penulis untuk mempermudah pembaca dalam memahami pengguna media tersebut.

Sabtu, 04 April 2020

FILUM ARTHROPODA

Disusun Oleh :
Serta Ulina Silangit
2224180068
4A
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

Hai kawan-kawan semua... berjumpa lagi dengan saya Serta Ulina Silangit dalam blog ini. Apakabar semua? Saya harap kalian semua dalam keadaan sehat. Kawan-kawan kalian pernah melihat udang, kelabang, laba-laba, belalang? Pasti sudah pernah melihatnya kan? Apakah kawan-kawan tau hewan-hewan tersebut merupakan Filum Arthropoda. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi terkait Filum Arthropoda. Happy Reading:)

FILUM ARTHROPODA
Arthropoda berasal dari bahasa Yunani yaitu arthro berarti “ruas”  dan podos yang berarti “kaki”. Jadi, arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas. Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000 spesies (Masdianur M. (2014)).
Menurut referensi yang telah saya baca dijelaskan bahwa hewan yang termasuk dalam filum arthropoda memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut :
a) Tubuh dan kaki bersegmen,
b) Eksoskeleton (dinding tubuh) berkitin dan bersegmen,
c) Alat mulut beruas dan dapat beradaptasi untuk makan,
d) Bernafas dengan permukaan tubuh, insang dan trakea,
e) Alat pencernaan makanan berbentuk tabung, terletak di sepanjang tubuh,
f) Alat pembuangan melalui pipa panjang pada rongga tubuh.
Selain memiliki ciri umum terdapat juga ciri khusus Arthropoda  sebagai berikut :
a) Memiliki bentuk tubuh bilateral simetris,
b) Mempunyai appendage yang beruas,
c) Tubuh dibungkus oleh zat kitin,
d) Tubuh terdiri atas beberapa ruas dengan kaki yang melekat pada ruas tersebut,
e) Coelom pada hewan dewasa berukuran kecil dan merupakan suatu rongga berisi darah disebut homocoel,
f) Sistem saraf tangga tali.
Secara umum Filum Arthropoda dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelas, yaitu :
a) Kelas Crustaceae
            Crustaceae berasal dari bahasa Latin “crusta” yang berarti “cangkang”.Crustaceae disebut sebagai hewan bercangkang. Pada saatini telah dikenal kurang dari 26.000 jenis Crustaceae yang mana udang dan kepiting ialah jenis yang paling unggul. Crustaceae memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Tubuh bersegmen terdiri atas sefaaalotoraks dan abdomen,
  • Alat gerak berupa kaki yang berfungsi untuk berenang, merangkak, atau menempel pada dasar perairan,
  • Memiliki maksiliped dan maksilla berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut,
  • Habitatnya di air tawar dan air laut, namun ada beberapa yang hidup didarat,
  • Pada bagaian kepala terdapat organ tubuh bagaian dalam seperti : 2 pasang antenna, 1 pasang mandibula, 1 pasang maksilla dan 1 pasang maksilliped (Denang.(2018))
Salah satu contoh dari kelas Crustacea adalah udang jerbung. Udang jerbung (Fenneropenaeus merguiensis) merupakan udang penaeid yang mempunyai klasifikasi umum sebagai berikut:
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustacea
Sub kelas         : Malacostraca
Seri                  : Eumalacostraca
Super ordo      : Eucarida
Ordo                : Decapopada
Sub ordo         : Natantia
Seksi                : Penaeidae
Famili              : Penaeinae
Genus              : Penaeus
Spesies            : Fenneropenaeus merguiensis (Kusrini E.(2011))

(sumber: Kusrini E dalam Jurnal MENGGALI SUMBERDAYA GENETIK UDANG JERBUNG
(Fenneropenaeus merguiensis de Man) SEBAGAI KANDIDAT
UDANG BUDIDAYA DI INDONESIA)

b.) Kelas Arachnida
Kata dari arachnida ini berasal dari bahasa Yunani, yakni “arachno” yang artinya laba-laba. Tetapi anggota dari kelas ini bukan hanya laba-laba. Secara umum anggotanya mempunyai dua bagian tubuh utama, yakni bagian depan (kepala) serta bagian belakang (perut). Tetapi pada kalajengking terdapat tiga bagian tubuh, yakni bagian depan(kepala), tengah(badan) serta belakang(ekor) (Gruru P.(2020)). Adapun Ciri-ciri utama dari arachnida ialah sebagai berikut :

  • Tubuh nya itu bersegmen yang terdiri dari sefalothoraks (kepala-dada) serta juga abdomen (tidak beruas),
  • Mempunyai empat pasang anggota gerak,
  • Banyak yang hidup di darat, beberapa dapat ditemukan di air laut atau hidup sebagai parasit,
  • Tidak memiliki antena pada bagian kepala-dada (sefalothoraks) dan
  • Mempunyai mulut yang fungsinya itu untuk memegang atau juga menangkap mangsa, mulut ini pun sering disebut dengan istilah klisera.
  • Memiliki alat peraba serta juga pemotong yang biasanya disebut dengan pedipalpus (terletak di belakang klisera).
  • Darahnya mengandung hemoglobin.
Laba-laba merupakan contoh hewan dari kelas Arachnida yang memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Arachnida
Ordo                : Aranae
Famili              : Loxoscelidae (Sejati M.(2012)).

(Sumber : BugGuide.net)
c.) Kelas Myriapoda
Kata myriaooda ini berasal dari bahasa Yunani, ialah “Myria” yang artinya itu banyak serta “podos” yang artinya kaki. Sesuai dengan namanya tersebut, myriapoda ini adalah kelompok hewan dengan kaki yang cukup banyak (Guru P.(2020)). Dibawah ini merupakan beberapa ciri utama dari myriapoda :
  • Tubuhnya panjang seperti cacing serta mempunyai banyak segmen,
  • Pada bagian kepala terdapat satu pasang antenna,
  • Memiliki 1 sampai 2 pasang kaki pada itiap-tiap ruas badannya,
  • Hewan yang mempunyai 1 pasang kaki pada satu ruas badan disebut dengan chilopoda, sedangkan untuk yang mempunyai dua pasang kaki pada tiap-tiap ruas badannya disebut dengan diplopoda dan
  • Terjadi penambahan jumlah segmen pada tiap-tiap proses pergantian kulit.
Berikut ini adalah kaki seribu yang merupakan contoh dari kelas Myriapoda dengan klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Class               : Diplopoda
Ordo               : Polydesmidae
Family            : Polydesmida
Genus             : Polydesmus
Spesies            : Polydesmus sp. (Armando Septian., M. Sembiring., T. Sabrina. (2018))

(Sumber : Dokumentasi Simbolon, Armando Septian., M. Sembiring., T. Sabrina dalam Jurnal Deskripsi Makrofauna pada Tanah Andisol di Kabupaten Karo dengan berbagai Ketebalan Abu Vulkanik Gunung Sinabung. )

d.) Kelas Insecta
Kata insecta ini diambil dari bahasa latin, yang artinya adalah serangga. Insecta ini adalah satu-satunya hewan di dalam kelompok invertebrata yang mempunyai kemampuan untuk terbang. Spesies serta jenis dari individu di dalam kelas ini sangatlah banyak. Jumlah spesies insecta yang sudah dikenali itu terdapat sekitar 750.000 spesies. Cabang ilmu yang mempelajari mengenai serangga ini disebut Entomologi (Guru P.(2020)). Dibawah ini merupakan beberapa ciri utama insecta :
  • Tubuhnya itu terdiri dari 3 bagian tubuh utama, yakni kepala, badan, serta perut,
  • Pada bagian kepalanya itu terdapat mulut yang memiliki tipe penggigit, penghisap serta penelan,
  • Mempunyai 3 pasang kaki,
  • Sebagian besar anggotanya itu hidup di darat,
  • Umumnya mempunyai sayap serta bernapas itu dengan menggunakan trakea dan
  • Tubuhnya itu dilindungi oleh kulit keras dari kitin yang memiliki fungsi ialah sebagai eksoskeleton.
Adapun contoh hewan dari kelas insect salah satunya Belalang dan Semut yang memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Belalang
Phylum            : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo                : Coleoptera
Famili              : Staphylinidae Simbolon (Armando Septian., M. Sembiring., T. Sabrina. (2018))

(Sumber:BugGuide.net)
Semut
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo                : Hymenoptera
Famili              : Formicidae
(Sumber : BugGuide.net)
Pada lingkungan sehari-hari banyak jenis Arthropoda disekitar kita. Mereka memiliki berbagai macam peran. Peranan Arthropoda yang menguntungkan, antara lain sebagai berikut.

  • Sumber makanan yang mengandung protein tinggi, contohnya udang windu (Penaeus monodon), lobster (Panulirus homarus), kepiting (Scylla serrata), rajungan (Portunus), laron, dan gangsir,
  • Menghasilkan madu, contohnya lebah madu (Apis mellifera),
  • Bahan pakaian sutera, contohnya kepompong ulat sutra (Bombyx mori),
  • Membantu penyerbukan tanaman dan
  • Serangga predator sebagai pemberantas hama tanaman secara biologi (Dianti S.(2020)).

Daftar Pustaka
Denang. (2018). Crustacea. Online http:denanggawp.lecture.ub.ac.id.  Diakses pada 4 April 2020 pukul 13:18
Dianti Sri. (2020). Peranan Arthropoda dalam Kehidupan Manusia. Online https://www.sridianti.com/peranan-arthropoda-dalam-kehidupan-manusia.html. Diakses pada 4 April 2020 pukul 14:45
Guru P.(2020). Pengertian Arthropoda. Online https://pendidikan.co.id. Diakses pada 4 April 2020 pukul 13:45
Kusrini E. (2011). MENGGALI SUMBERDAYA GENETIK UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguiensis de Man) SEBAGAI KANDIDAT UDANG BUDIDAYA DI INDONESIA. Jurnal Media Akuakultur. Vol. 6(1)
Masdianur M. (2014). Arthropoda. Online http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id. Diakses pada 4 April 2020 pukul 12:25
Sejati M.(2012). Identifikasi arthoropoda yang ditemukan pada lahan Bawang Merah semi organik dan anorganik di Desa Torongrejo Kota Batu. Online http://etheses.uin-malang.ac.id. Diakses pada 4 April 2020 pukul 13:25
Simbolon, Armando Septian., M. Sembiring., T. Sabrina. (2018). Deskripsi Makrofauna pada Tanah Andisol di Kabupaten Karo dengan berbagai Ketebalan Abu Vulkanik Gunung Sinabung. Jurnal Pertanian Tropik. Vol. 5 (1)

Kamis, 19 Desember 2019

Mini Riset Banten Lama

MAKALAH
“STUDI KEBANTENAN “
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Kebantenan
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Enggar Utari, M.Si






Disusun oleh:
Neisya Linggadhellya Dyva      (2224180058)
Riska Oktaviari                          (2224180052)
Alivia Salabila                            (2224180056)
Sri Mega Mulyati                       (2224180102)
Dhian Widya Astuti                   (2224180047)
Serta Ulina Silangit                    (2224180068)




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYAS
2019



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Provinsi banten terdiri dari empat kota dan kabupaten yang terdiri dari Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandenglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang. Dari banyaknya daerah di Provinsi banten menambah pula kekayaan potensi yang ada di Provinsi Banten, baik itu budaya, makanan, atau sejarah.
Salah satu kota yang menyimpan banyak potensi adalah Kota Serang yang sekaligus merupakan ibukota dari Provinsi Banten. Makanan khas daerah yang terkenal dari kota ini adalah rabeg, sedangkan situs bersejarah yang sering orang kunjungi adalah Masjid Agung Banten Lama. Masjid Agung Banten terletak di Kelurahan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Tampat ini merupakan situs bersejarah peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552-1570. Selain sebagai objek wisata ziarah (terdapat makam-makam kesultanan Banten), Masjid Agung Banten juga merupakan objek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.
Kawasan  Banten  Lama  memiliki  potensi  yang  cukup  mendukung  untuk dikembangkan  sebagai  destinasi  wisata,  namun  sampai  saat  ini  karakteristik wisatawan  didominasi  oleh  wisatawan  lokal  dengan  mayoritas  mata  pencaharian sebagai  petani dengan  motivasi  kunjungan  untuk  melakukan  ziarah  terutama dihari libur dan hari besar keagamaan, dengan mengunjungi masjid Agung Banten sebagai   tujuan   utama   dan   makam-makam   para   sultan.   Sedangkan   Kawasan Banten  Lama  sesungguhnya   memililiki   banyak  objek   yang   bisa  dikunjungi, seperti keraton, benteng dan vihara.
Antusiasme orang – orang yang berasal dari dalam maupun dari luar daerah untuk berkunjung ke Masjid Agung Banten Lama semakin besar setelah daerah wisata sejarah tersebut direnovasi. Pada survey ini kita berkunjung ke banten lama dengan menyebarkan kuisoner kepada para pengunjung yang berisikan pertanyaan tentang kegiatan apa yang mereka lakukan di Masjid Agung Banten Lama, bagaimana perasaan mereka maupun keadaan yang mereka lihat di Masjid Agung Banten Lama. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah Masjid Agung Banten lama sudah memiliki fasilitas yang layak untukpara pengunjung dan apakah mereka puas dengan kunjungannya ke Masjid Agung Banten Lama.
B. TUJUAN
a.       Merumuskan  upaya optimalisasi pengelolaan  kawasan  wisata  banten  lama sebagai wisata religi.
b.      Mengidentifikasi kelestarian benda cagar budaya
c.       Menganalisis hubungan hubungan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian cagar budaya di kawasanBanten Lama.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Masjid Agung Banten Lama
Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama SundaPortugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513. Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan juga dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri pada tahun 1552 dengan Maulana Hasanudin yang menjadi raja pertamanya.
Wilayah kekuasaan Maulana Hasanudin meliputi Banten, Jayakarta sampai Karawang, Lampung, Indrapura sampai Solebar. Pada masa pemerintahan Maulana Hasanudin pembangunan kerajaan lebih dititikberatkan pada bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, serta penyebaran dan pemantappan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam. Maulana Hasanudin wafat pada tahun 1570, kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf.
Maulana Yusuf melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Pada masa Maulana yusuf, perdagangan di banten mengalami kemajuan yang pesat. Berkembangnya perdagangan di Banten, menarik minat banyak pendatang dari negeri lain untuk datang dan berdagang di Banten (Sulistyo, 2012)..
Pada tahun 1580 Sultan Maulana Yusuf wafat, kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan yang memerintah sejak tahun 1580 hingga tahun 1596. Maulana Muhammad mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut. Maulana Muhammad meninggal dalam usia muda, kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang putra berusia lima bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putrid dari Mangkubumi. Anak ini menggantikan pemerintahan Maulana Muhammad. Namun sehubungan dengan usia Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir (anak Sultan Muhammad) masih sangat muda, maka untuk menjalankan pemerintahan ditunjuk Mangkubumi Jayanagara. Pada masa pemerintahannya banyak kemajuan di bidang perdagangan, dan untuk pertama kalinya kapal dagang Belanda mendarat di Pelabuhan Banten.
Namun pada masa tersebut terjadi konflik diantara anggota keluarga kerajaan yang hendak merebut tahta kerajaan karena usia sultan masih sangat muda. Barulah pada tanggal 16 November 1624 Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir memerintah Banten. Beliau menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil gelar "Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu alMafakhir Mahmud Abdul kadir. Masa pemerintahan Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir penuh dengan ketegangan antara Banten dan Belanda. Banyak terjadi pertempuranpertempuran kecil antara pihak Banten dan Belanda. Pada tanggal 10 Maret 1651, Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir meninggal dunia dan dimakamkan di Kenari.
Pengganti selanjutnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam masa politik kenegaraan, ia dengan tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten. Pada tahun 1892 Sultan Ageng Tirtayasa wafat dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Banten. Pemerintah Banten selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah ia meninggal, terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya. Belanda ikut campur tangan melalui Van Imhoff yang mengangkat anak pertamanya yaitu pangeran Ratu menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Pemerintahan Banten kemudian digantikan oleh adik dari Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya yaitu Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu‟l Mahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733). Ia digantikan oleh putra keduanya yang bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733-1747). Pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemberontakan.
Setelah pemerintahan Zainul, sultan berikutnya adalah Pangeran Syarif Abdullah yang diangkat dengan persetujuan Belanda dengan gelar Sultan Syariffuddin Ratu Wakil pada tahun 1750. Pengganti Sultan Syariffuddin Ratu Wakil adalah adiknya yaitu Pangeran Arya Adisantika dengan gelar Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul „Alamin pada tahun 1752 dan putra mahkotanya adalah Pangeran Gusti. Pada tahun 1753, Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul „Alamin menyerahkan kekuasaanya kepada Pangeran Gusti yang kemudian bergelar Abu‟l Nasr Muhammad “Arif Zainul” Asiqin. Ia wafat pada tahun 1773 yang kemudian digantikan oleh putranya dengan gelar Sultan Abu‟l Mafakih Muhammad Aliyuddin (1773-1799). Sultan ini tidak memiliki putra sehingga digantikan oleh adiknya, Pangeran Muhiddin dengan gelar Sultan Abu‟lfath Muhammad Muhiddin Zainushalihin (1799- 1801). Sultan Muhiddin dibunuh kemudian pengganti selanjutnya adalah putra Sultan Aliyuddin dari selir dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801- 1802).
Pada tahun 1802 kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran Natawijaya. Pada tahun 1803 digantikan oleh putra kedua Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin atau Sultan Aliyuddin II (1803-1808). Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. Pada tahun 1813, ketika Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Muhammad Syarifuddin, ia dipaksa turun tahta dan kemudian Kesultanan Banten dihapuskan oleh Pemerintahan Inggris yang menggantikan Belanda di Banten di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Kini masa lalu kesultanan Banten tersebut hanya menyisakan bukti-buktinya. Bukti peninggalan tersebut merupakan saksi bisu kejayaan masyarakat dan budaya Banten di masa lalu, antara lain berupa bekas kompleks Keraton (Sulistyo, 2012).
B. Keunikan Masjid Agung Banten Lama
Banten merupakan daerah dengan letak strategis sebagai pelabuhan sekaligus pintu gerbang masuknya peradaban Islam di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan adanya Masjid Agung Banten yang berdiri kokoh sejak abad ke-15 di utara kota Serang, Banten. Arsitektur dari masjid Agung Banten dapat dikatakan cukup unik, karena merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Belanda. Keunikan ini lah yang menggugah saya untuk membuat Studi Kasus yang membahas lebih dalam mengenai pengaruh budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur bangunan bersejarah ini. Saya menguraikan satu per satu elemen bangunan yang terpengaruh oleh ketiga budaya tersbut. Dengan demikian saya dapat mengerti elemen apa saja yang terpengaruh oleh ketiga budaya tersebut serta mengerti keindahan dari perpaduan ketiga budaya tanpa saling menghilangkan keindahan budaya lainnya.
Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua yang ada di nusantara. Masjid ini merupakan masjid pusat penyebaran agama Islam di Banten. Masjid Agung Banten dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon. Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Jawa Barat. Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan si sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan benteng/keratin Surosowan di sebelah tenggara. Salah satu keistimewaan Masjid Agung Banten adalah masjid ini dibangun oleh tiga orang arsitektur yang berbeda sehingga mempunyai ciri khas Masjid agung Banten : Perpaduan Tiga Budaya dalam Satu Arsitektur, tiap-tiap arsitektur yang membangunnya. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang telah berjasa merancang Masjid Agung Demak, Masjid Agung Ciptarasa Cirebon dan Masjid Agung Banten. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su. Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek masjid agung Banten. Komplek bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas area kurang lebih 1,3 HA yang dikelilingi oleh pagar tembok setinggi satu meter. Pada tembok sisi timur dan barat masjid masing-masing terdapat dua buah gapura di bagian utara dan selatan yang letaknya sejajar dan berdiri di atas pondasi stinggi kurang lebih satu meter di atas halaman. Ruang utama masjid ini memiliki bentuk persegi panjang dengan luas 25 x 19 meter.
Arsitektur Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik dan metafisik bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan muslim. Pemikiran islam di sini termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai ajaran islam seperti penghambaan pada Allah, hubungan baik sesama makhluk hidup, dan nilai-nilai Islam lainnya. Dalam hal ini, arsitektur islam tidak hanya berbicara tentang bentuk-bentuk, lebih dari itu berbicara tentang kebermanfaatan bagi orang banyak, suasana yang ada pada bangunan tersebut, serta fungsi dari bangunan itu sendiri, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang sudah disebut tadi. Masjid merupakan salah satu produk arsitektur Islam. Gaya dan bentuk masjid sangat terpengaruh oleh budaya, suku, dan etnis pada daerah sekitar tempat di mana masjid itu dibangun pada masanya. Inti dari tulisan ini adalah bagaimana kita bisa memahami peran dari rancangan Masjid Agung Banten yang merupakan sebuah masjid dengan perpaduan tiga budaya arsitektur yang berbeda, yaitu Jawa, Cina, dan Belanda (Laksmi, 2017).
Perpaduan budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten.
a)      Budaya Jawa pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada Masjid Agung Banten terdapat sebuah pendopo di sebelah selatan masjid, yang pada budaya jawa berfungsi untuk tempat berkumpul, musyawarah, dan segala aktivitas yang lebih profan (tidak bersangkutan dengan agama), meskipun memiliki fungsi yang lebih profane, pendopo ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, sesuai nilai-nilai Islam. Pada pendopo ini terdapat umpak batu andesit berbentuk labu ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan serta menunjukkan kemakmuran kesultanan Banten lama pada masanya. Umpak tersebut semakin memperkuat nuansa budaya jawa. Pengaruh budaya jawa ini tentu dibawa oleh arsitek bernama Raden Sepat.
b)      Budaya Cina pada arsitektur Masjid Agung Banten Pengaruh budaya Cina yang paling terasa pada Masjid Agung Banten ialah bentuk atap dari bangunan utama masjid. Atap dari masjid ini memiliki lima susun atap. Ini adalah karya arsitektur China yang bernama Tjek Ban Tjut. Makna dari lima susun atap tersebut adalah rukun Islam, namun yang menarik pada atap ini adalah dua tumpukan atap yang paling atas seakan terpisah dengan tiga tumpuk lainnya, hal ini mengesankan dua tumpukan atap tersebut digambarkan sebagai mahkota dari Masjid Agung Banten.
c)      Budaya belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada sisi timur masjid terdapat sebuah menara yang mirip mercusuar menjadi ciri khas Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata, dengan diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km. Dahulu, selain digunakan sebagai tempang mengumandangkan azan, menara ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan senjata. Penggunaan menara pada masjid pada kala itu sebenarnya belum ada di pulau Jawa, ini merupakan pengaruh dari budaya Belanda yang dibawa oleh Arsitek Hendrik Lucaz Cardeel (Laksmi, 2017).

C. Masjid Agung Banten Lama Sebelum Revitalisasi
Sebelum revitalisasi kondisi Masjib Agung Banten Lama terjadi berbagai permasalahan. Permasalahan yang terjadi yaitu menuanya kondisi fisik bangunan bersejarah, Daya tarik Banten Lama yang hanya pada Masjid Agung saja, masih banyak pedagang yang mengelilingi bangunan bersejarah yang terlihat kumuh, masih terdapat beberapa jalanan yang rusak menuju kawasan Banten Lama, kebersihannya pun masih jauh diatas rata-rata, dan banyaknya plang atau petujuk arah yang sudah karatan karena terbuat dari besi sehingga tulisannya menjadi tidak jelas.
Kondisi lingkungan fisik Masjid Agung Banten Lama sebelum revitalisasi juga memprihatinkan. Kondisinya yang  tidak nyaman dari sudut ketersediaan sumber air bersih, dan kebersihan yang tidak terjaga. Begitupun keamanan, kenyamanan dan ketertiban di Kawasan Banten Lama yang kondisinya masih rawan. Parkiran di kawasan Banten Lama sebelum revitalisasi sangat tidak terarah. Parkiran hanya terpusat di satu titik.
Dari berbagai permasalaan tersebut tentunya membutuhkan sebbuah solusi dan pembaharuan. Maka dari itu dilakukanlah revitalisasi. Di samping langkah-langkah yang bentuknya fisik seperti penataan kawasan dan penyiapan infrastruktur untuk mempermudah akses, secara kelembagaan pengelolaan Banten lama juga perlu diperbaiki. Kawasan Banten Lama perlu adanya konsep pengembangan managerial agar kawasan Banten Lama dapat menjadi kawasan obyek wisata yang tertata. Untuk mengatasinya pastilah diperlukan banyak “inovasi wisata” yang sinergi dengan keberadaan Masjid Agung, serta situasi yang lebih nyaman dan menyenangkan sehingga waktu tunggu untuk ziarah ke pelataran Masjid Agung bisa memberi pengalaman yang tak terlupakan. Untuk kegiatan ekonomi masyarakat, perlu adanya tempat yang layak dan memadai untuk berjualan. Selain itu, perlu adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada peningkatan keterampilan teknis guna menciptakan peluang usaha baru, pengembangan usaha, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Secara umum potensi dan daya tarik kawasan Banten Lama terdiri dari beberapa obyek yang bernilai historis tinggi yang dapat dinikmati oleh pengunjung, yaitu terdapat beberapa keraton seperti Surosowan dan Kaibon, Pangindelan, Gedong Ijo, Pangindelan, Museum serta Masjid Agung. Namun kenyataannya, di Kawasan Banten Lama yang menjadi daya tarik sampai saat ini hanya Masjid Agung karena selain pengunjung dapat beribadah, terdapat pula makam-makam para sultan yang menjadi tempat ziarah.
D. Masjid Agung Banten Lama Sesudah Revitalisasi
Hasil dari penataan atau revitalisasi menjadikan komples Banten Lama menjadi bersih dan lebih rapi dengan tidak adanya pedagang pedagang yang berkeliaran dan mendirikan gerobak kaki lima, dan halaman di sekitar masjid sudah dipasangi paving block menggantikan hamparan ialang. Dan memang penataan yang dilakukan oleh Pemprov Banten ialah dari kebersihan, penataan pedagang kaki lima, pemisahan zona-zona khusus yang memiliki nilai sejarah, serta perbaikan kanal-kanal yang ada di sekitar kawasan tersebut. Penataan ini bertujuan agar pengunjung yang datang ke daerah wisata Banten Lama merasa nyaman. Selain itu, melestarikan nilai-nilai sejarah yang berada di kawasan Banten Lama.



(Masjid Agung Banten Lama)


BAB III
HASIL MINI RISET

Setelah melakukan observasi, penulis memperoleh data dari berbagai pengunjung Masjid Agung Banten Lama.  Terdapat berbagai macam pengunjung yang kami wawancarai mulai dari orang yang sudah menikah, belum menikah, pelajar dan lainya. Pertama kami menanyakan identitas pengunjung yang didalamnya terdapat nama, jenis kelamin, pendidikan terakhir, usia, pekerjaan, status perkawinan dan asal sekolah. Kami memberikan empat aspek penilaian kepada pengunjung Masjid Agung Banten Lama diantaranya yaitu,  aspek pariwisata atau sosial budaya, aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek teknologi.
   Dilihat dari aspek pariwisata atau sosial budaya hampir semua pengunjung berkunjung ke masjid agung banten lama bersama keluarganya untuk ibadah dan ziarah, mereka berkunjung ke Mesjid Agung Banten Lama bukan karena melihat keunikan masjidnya saja tetapi karena mereka senang bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.
     Dilihat dari aspek lingkungan, wilayah Mesjid Agung Banten Lama, Keraton Surosowa dan sekitarnya terlihat bersih karena menyediakan berbagai kotak sampah yang berbeda sesuai dengan jenisnya. Karena telah disediakan kotak sampah, sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dengan begitu pengelolaan sampah di Masjid Agung Banten Lama sangat baik. Fasilitas air dan sarana ibadah di wilayah Masjid Agung Banten Lama dikelola dengan baik sehingga tidak ada air yang menggenang dan tidak mengganggu sarana untuk beribadah karena tempatnya yang bersih sehingga membuat pengunjung nyaman berkunjung.
      Dilihat dari aspek ekonomi, disekitar Masjid Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan banyak menyediakan oleh-oleh khas Banten seperti Batik Banten, olahan bandeng, olahan melinjo dan lain sebagainya. Oleh-oleh tersebut sangat variatif dan harganya sangat terjangkau.  Bukan hanya oleh-oleh khas Banten yang sangat variatif, tetapi oleh-oleh khas Banten dikemas dengan kemasan yang higienis, menarik dan tertera label Halal. Adapun Jika dilihat dari aspek teknologi, akses jalan menuju wisata religi sangat lancar dan mudah, terdapat CCTV di area wisata religi dan terdapar layar TV dibeberapa sudut karena untuk memantau kejadian disekitar wilayah tersebut, tetapi pintu masuk dan keluar pengunjung belum terpisah sehingga pengunjung kesulitan untuk mengakses.

(Proses Pengambilan Data)



BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada hasil wawancara beberapa narasumber (pengunjung) yang berada di Masjid Agung Banten Lama bahwasanya mereka yang sudah pernah kesana ingin berkunjung lagi bersama teman, keluarga atau sahabat. mereka berkunjung ke Masjid Agung Banten Lama ada yang ingin berziarah/berdoa, dan ada yang datang hanya untuk melihat-lihat dan berfoto. Dapat disimpulkan juga dalam segi kebersihan dan keamanan cukup bagus dan bersih. tetapi yang harus diperbaiki adalah sistem untuk para pengunjung pada saat keluar maupun masuk karna hanya terdapat satu pintu masuk maupun  keluar.


DAFTAR PUSTAKA

Laksmi, Bintang Widya. (2017). Masjid Agung Banten: Perpaduan Tiga Budaya
dalam Satu Arsitektur. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A 365-368.
Raharjo, Supratikno, dkk. (2011). Kota Banten Lama. Mengelola Warisan untuk
            Masa Depan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Sulistyo, Budi. (2012). REVITALISASI KAWASAN BANTEN LAMA
 SEBAGAI WISATA ZIARAH. Jurnal Planesa. 3 (1): 12-19.

Survei Minat Konsumen