MAKALAH
“STUDI
KEBANTENAN “
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi
Kebantenan
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Enggar Utari, M.Si
Disusun oleh:
Neisya
Linggadhellya Dyva (2224180058)
Riska
Oktaviari (2224180052)
Alivia Salabila (2224180056)
Sri
Mega Mulyati (2224180102)
Dhian Widya Astuti (2224180047)
Serta
Ulina Silangit (2224180068)
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYAS
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Provinsi
banten terdiri dari empat kota dan kabupaten yang terdiri dari Kota Serang,
Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang,
Kabupaten Pandenglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang. Dari banyaknya
daerah di Provinsi banten menambah pula kekayaan potensi yang ada di Provinsi
Banten, baik itu budaya, makanan, atau sejarah.
Salah
satu kota yang menyimpan banyak potensi adalah Kota Serang yang sekaligus
merupakan ibukota dari Provinsi Banten. Makanan khas daerah yang terkenal dari
kota ini adalah rabeg, sedangkan situs bersejarah yang sering orang kunjungi
adalah Masjid Agung Banten Lama. Masjid Agung Banten terletak di Kelurahan
Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, sekitar 10 km
sebelah utara Kota Serang. Tampat ini merupakan situs bersejarah peninggalan
Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552-1570.
Selain sebagai objek wisata ziarah (terdapat makam-makam kesultanan Banten),
Masjid Agung Banten juga merupakan objek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan
mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah
kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan
arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.
Kawasan
Banten
Lama memiliki potensi
yang cukup mendukung
untuk dikembangkan sebagai destinasi
wisata, namun sampai
saat ini karakteristik wisatawan didominasi
oleh wisatawan lokal
dengan mayoritas mata
pencaharian sebagai petani dengan motivasi
kunjungan untuk melakukan
ziarah terutama dihari libur dan
hari besar keagamaan, dengan mengunjungi masjid Agung Banten sebagai tujuan
utama dan makam-makam
para sultan. Sedangkan
Kawasan Banten Lama sesungguhnya
memililiki banyak objek
yang bisa dikunjungi, seperti keraton, benteng dan
vihara.
Antusiasme
orang – orang yang berasal dari dalam maupun dari luar daerah untuk berkunjung
ke Masjid Agung Banten Lama semakin besar setelah daerah wisata sejarah
tersebut direnovasi. Pada survey ini kita berkunjung ke banten lama dengan
menyebarkan kuisoner kepada para pengunjung yang berisikan pertanyaan tentang
kegiatan apa yang mereka lakukan di Masjid Agung Banten Lama, bagaimana
perasaan mereka maupun keadaan yang mereka lihat di Masjid Agung Banten Lama.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah Masjid Agung Banten lama sudah
memiliki fasilitas yang layak untukpara pengunjung dan apakah mereka puas
dengan kunjungannya ke Masjid Agung Banten Lama.
B.
TUJUAN
a. Merumuskan upaya optimalisasi pengelolaan kawasan
wisata banten lama sebagai wisata religi.
b. Mengidentifikasi
kelestarian benda cagar budaya
c. Menganalisis
hubungan hubungan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian cagar budaya di
kawasanBanten Lama.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Masjid Agung Banten Lama
Pada
awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari
Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana
Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus
penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama SundaPortugal
dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan
Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun
1513. Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan
dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih
merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Maulana Hasanuddin, putera Sunan
Gunung Jati berperan juga dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan
tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan
Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi
kesultanan yang berdiri sendiri pada tahun 1552 dengan Maulana Hasanudin yang
menjadi raja pertamanya.
Wilayah
kekuasaan Maulana Hasanudin meliputi Banten, Jayakarta sampai Karawang,
Lampung, Indrapura sampai Solebar. Pada masa pemerintahan Maulana Hasanudin
pembangunan kerajaan lebih dititikberatkan pada bidang keamanan kota, perluasan
wilayah perdagangan, serta penyebaran dan pemantappan kepercayaan rakyat kepada
ajaran Islam. Maulana Hasanudin wafat pada tahun 1570, kemudian digantikan oleh
putranya yang bernama Maulana Yusuf.
Maulana
Yusuf melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan
Pakuan Pajajaran tahun 1579. Pada masa Maulana yusuf, perdagangan di banten
mengalami kemajuan yang pesat. Berkembangnya perdagangan di Banten, menarik
minat banyak pendatang dari negeri lain untuk datang dan berdagang di Banten
(Sulistyo, 2012)..
Pada
tahun 1580 Sultan Maulana Yusuf wafat, kemudian ia digantikan anaknya Maulana
Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan yang memerintah sejak tahun 1580 hingga
tahun 1596. Maulana Muhammad mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai
bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara,
namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut. Maulana Muhammad
meninggal dalam usia muda, kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang
putra berusia lima bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putrid dari Mangkubumi.
Anak ini menggantikan pemerintahan Maulana Muhammad. Namun sehubungan dengan
usia Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir (anak Sultan Muhammad) masih
sangat muda, maka untuk menjalankan pemerintahan ditunjuk Mangkubumi
Jayanagara. Pada masa pemerintahannya banyak kemajuan di bidang perdagangan,
dan untuk pertama kalinya kapal dagang Belanda mendarat di Pelabuhan Banten.
Namun
pada masa tersebut terjadi konflik diantara anggota keluarga kerajaan yang
hendak merebut tahta kerajaan karena usia sultan masih sangat muda. Barulah
pada tanggal 16 November 1624 Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir
memerintah Banten. Beliau menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil
gelar "Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu alMafakhir Mahmud
Abdul kadir. Masa pemerintahan Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir penuh
dengan ketegangan antara Banten dan Belanda. Banyak terjadi
pertempuranpertempuran kecil antara pihak Banten dan Belanda. Pada tanggal 10
Maret 1651, Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir meninggal dunia dan
dimakamkan di Kenari.
Pengganti
selanjutnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam masa politik kenegaraan, ia
dengan tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya.
Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten.
Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh
Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten.
Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke
Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan
menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari
tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas
kapal-kapal dagang menuju Banten. Pada tahun 1892 Sultan Ageng Tirtayasa wafat
dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Banten. Pemerintah Banten
selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah ia meninggal, terjadi perebutan
kekuasaan diantara anak-anaknya. Belanda ikut campur tangan melalui Van Imhoff
yang mengangkat anak pertamanya yaitu pangeran Ratu menjadi Sultan Banten
dengan gelar Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Pemerintahan Banten
kemudian digantikan oleh adik dari Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya yaitu
Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu‟l Mahasin Muhammad Zainul Abidin
(1690-1733). Ia digantikan oleh putra keduanya yang bergelar Sultan Abulfathi
Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733-1747). Pada masa pemerintahannya banyak
terjadi pemberontakan.
Setelah
pemerintahan Zainul, sultan berikutnya adalah Pangeran Syarif Abdullah yang
diangkat dengan persetujuan Belanda dengan gelar Sultan Syariffuddin Ratu Wakil
pada tahun 1750. Pengganti Sultan Syariffuddin Ratu Wakil adalah adiknya yaitu
Pangeran Arya Adisantika dengan gelar Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul
„Alamin pada tahun 1752 dan putra mahkotanya adalah Pangeran Gusti. Pada tahun
1753, Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul „Alamin menyerahkan kekuasaanya
kepada Pangeran Gusti yang kemudian bergelar Abu‟l Nasr Muhammad “Arif Zainul”
Asiqin. Ia wafat pada tahun 1773 yang kemudian digantikan oleh putranya dengan
gelar Sultan Abu‟l Mafakih Muhammad Aliyuddin (1773-1799). Sultan ini tidak
memiliki putra sehingga digantikan oleh adiknya, Pangeran Muhiddin dengan gelar
Sultan Abu‟lfath Muhammad Muhiddin Zainushalihin (1799- 1801). Sultan Muhiddin
dibunuh kemudian pengganti selanjutnya adalah putra Sultan Aliyuddin dari selir
dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801- 1802).
Pada
tahun 1802 kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran Natawijaya. Pada
tahun 1803 digantikan oleh putra kedua Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin
dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin atau Sultan Aliyuddin II
(1803-1808). Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia
Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk
mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan
Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja
untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon.
Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan
atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya
disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng
Speelwijk. Sultan Abul Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin kemudian diasingkan dan
dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya
di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia
Belanda. Pada tahun 1813, ketika Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan
Muhammad Syarifuddin, ia dipaksa turun tahta dan kemudian Kesultanan Banten
dihapuskan oleh Pemerintahan Inggris yang menggantikan Belanda di Banten di
bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan
pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Kini masa lalu kesultanan
Banten tersebut hanya menyisakan bukti-buktinya. Bukti peninggalan tersebut
merupakan saksi bisu kejayaan masyarakat dan budaya Banten di masa lalu, antara
lain berupa bekas kompleks Keraton (Sulistyo, 2012).
B.
Keunikan Masjid Agung Banten Lama
Banten
merupakan daerah dengan letak strategis sebagai pelabuhan sekaligus pintu
gerbang masuknya peradaban Islam di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan adanya
Masjid Agung Banten yang berdiri kokoh sejak abad ke-15 di utara kota Serang,
Banten. Arsitektur dari masjid Agung Banten dapat dikatakan cukup unik, karena
merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Belanda. Keunikan ini lah
yang menggugah saya untuk membuat Studi Kasus yang membahas lebih dalam
mengenai pengaruh budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur bangunan
bersejarah ini. Saya menguraikan satu per satu elemen bangunan yang terpengaruh
oleh ketiga budaya tersbut. Dengan demikian saya dapat mengerti elemen apa saja
yang terpengaruh oleh ketiga budaya tersebut serta mengerti keindahan dari
perpaduan ketiga budaya tanpa saling menghilangkan keindahan budaya lainnya.
Masjid
Agung Banten adalah salah satu masjid tertua yang ada di nusantara. Masjid ini
merupakan masjid pusat penyebaran agama Islam di Banten. Masjid Agung Banten
dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan
pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan
Cirebon. Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Kasemen, Kecamatan
Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Jawa Barat. Bangunan masjid berbatasan
dengan perkampungan si sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah
timur, dan benteng/keratin Surosowan di sebelah tenggara. Salah satu
keistimewaan Masjid Agung Banten adalah masjid ini dibangun oleh tiga orang
arsitektur yang berbeda sehingga mempunyai ciri khas Masjid agung Banten :
Perpaduan Tiga Budaya dalam Satu Arsitektur, tiap-tiap arsitektur yang
membangunnya. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang telah
berjasa merancang Masjid Agung Demak, Masjid Agung Ciptarasa Cirebon dan Masjid
Agung Banten. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su. Lalu
arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari
Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status
mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek masjid
agung Banten. Komplek bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas area kurang
lebih 1,3 HA yang dikelilingi oleh pagar tembok setinggi satu meter. Pada tembok
sisi timur dan barat masjid masing-masing terdapat dua buah gapura di bagian
utara dan selatan yang letaknya sejajar dan berdiri di atas pondasi stinggi
kurang lebih satu meter di atas halaman. Ruang utama masjid ini memiliki bentuk
persegi panjang dengan luas 25 x 19 meter.
Arsitektur
Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik dan
metafisik bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari
Al-Qur'an, Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan
muslim. Pemikiran islam di sini termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai ajaran
islam seperti penghambaan pada Allah, hubungan baik sesama makhluk hidup, dan
nilai-nilai Islam lainnya. Dalam hal ini, arsitektur islam tidak hanya
berbicara tentang bentuk-bentuk, lebih dari itu berbicara tentang
kebermanfaatan bagi orang banyak, suasana yang ada pada bangunan tersebut,
serta fungsi dari bangunan itu sendiri, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang
sudah disebut tadi. Masjid merupakan salah satu produk arsitektur Islam. Gaya
dan bentuk masjid sangat terpengaruh oleh budaya, suku, dan etnis pada daerah
sekitar tempat di mana masjid itu dibangun pada masanya. Inti dari tulisan ini
adalah bagaimana kita bisa memahami peran dari rancangan Masjid Agung Banten
yang merupakan sebuah masjid dengan perpaduan tiga budaya arsitektur yang
berbeda, yaitu Jawa, Cina, dan Belanda (Laksmi, 2017).
Perpaduan
budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten.
a) Budaya
Jawa pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada Masjid Agung Banten terdapat
sebuah pendopo di sebelah selatan masjid, yang pada budaya jawa berfungsi untuk
tempat berkumpul, musyawarah, dan segala aktivitas yang lebih profan (tidak
bersangkutan dengan agama), meskipun memiliki fungsi yang lebih profane,
pendopo ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, sesuai
nilai-nilai Islam. Pada pendopo ini terdapat umpak batu andesit berbentuk labu
ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo
digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan serta menunjukkan
kemakmuran kesultanan Banten lama pada masanya. Umpak tersebut semakin
memperkuat nuansa budaya jawa. Pengaruh budaya jawa ini tentu dibawa oleh
arsitek bernama Raden Sepat.
b) Budaya
Cina pada arsitektur Masjid Agung Banten Pengaruh budaya Cina yang paling
terasa pada Masjid Agung Banten ialah bentuk atap dari bangunan utama masjid.
Atap dari masjid ini memiliki lima susun atap. Ini adalah karya arsitektur
China yang bernama Tjek Ban Tjut. Makna dari lima susun atap tersebut adalah
rukun Islam, namun yang menarik pada atap ini adalah dua tumpukan atap yang
paling atas seakan terpisah dengan tiga tumpuk lainnya, hal ini mengesankan dua
tumpukan atap tersebut digambarkan sebagai mahkota dari Masjid Agung Banten.
c) Budaya
belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada sisi timur masjid terdapat
sebuah menara yang mirip mercusuar menjadi ciri khas Masjid Agung Banten.
Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata, dengan
diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara,
ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya
dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, dapat melihat pemandangan
di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan
laut hanya sekitar 1,5 km. Dahulu, selain digunakan sebagai tempang
mengumandangkan azan, menara ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan
senjata. Penggunaan menara pada masjid pada kala itu sebenarnya belum ada di
pulau Jawa, ini merupakan pengaruh dari budaya Belanda yang dibawa oleh Arsitek
Hendrik Lucaz Cardeel (Laksmi, 2017).
C.
Masjid Agung Banten Lama Sebelum Revitalisasi
Sebelum
revitalisasi kondisi Masjib Agung Banten Lama terjadi berbagai permasalahan.
Permasalahan yang terjadi yaitu menuanya kondisi fisik bangunan bersejarah,
Daya tarik Banten Lama yang hanya pada Masjid Agung saja, masih banyak pedagang
yang mengelilingi bangunan bersejarah yang terlihat kumuh, masih terdapat
beberapa jalanan yang rusak menuju kawasan Banten Lama, kebersihannya pun masih
jauh diatas rata-rata, dan banyaknya plang atau petujuk arah yang sudah karatan
karena terbuat dari besi sehingga tulisannya menjadi tidak jelas.
Kondisi
lingkungan fisik Masjid Agung Banten Lama sebelum revitalisasi juga
memprihatinkan. Kondisinya yang tidak
nyaman dari sudut ketersediaan sumber air bersih, dan kebersihan yang tidak
terjaga. Begitupun keamanan, kenyamanan dan ketertiban di Kawasan Banten Lama
yang kondisinya masih rawan. Parkiran di kawasan Banten Lama sebelum
revitalisasi sangat tidak terarah. Parkiran hanya terpusat di satu titik.
Dari
berbagai permasalaan tersebut tentunya membutuhkan sebbuah solusi dan
pembaharuan. Maka dari itu dilakukanlah revitalisasi. Di samping
langkah-langkah yang bentuknya fisik seperti penataan kawasan dan penyiapan
infrastruktur untuk mempermudah akses, secara kelembagaan pengelolaan Banten
lama juga perlu diperbaiki. Kawasan Banten Lama perlu adanya konsep
pengembangan managerial agar kawasan Banten Lama dapat menjadi kawasan obyek
wisata yang tertata. Untuk mengatasinya pastilah diperlukan banyak “inovasi
wisata” yang sinergi dengan keberadaan Masjid Agung, serta situasi yang lebih
nyaman dan menyenangkan sehingga waktu tunggu untuk ziarah ke pelataran Masjid
Agung bisa memberi pengalaman yang tak terlupakan. Untuk kegiatan ekonomi
masyarakat, perlu adanya tempat yang layak dan memadai untuk berjualan. Selain
itu, perlu adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada
peningkatan keterampilan teknis guna menciptakan peluang usaha baru,
pengembangan usaha, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan
masyarakat.
Secara
umum potensi dan daya tarik kawasan Banten Lama terdiri dari beberapa obyek
yang bernilai historis tinggi yang dapat dinikmati oleh pengunjung, yaitu
terdapat beberapa keraton seperti Surosowan dan Kaibon, Pangindelan, Gedong
Ijo, Pangindelan, Museum serta Masjid Agung. Namun kenyataannya, di Kawasan
Banten Lama yang menjadi daya tarik sampai saat ini hanya Masjid Agung karena selain
pengunjung dapat beribadah, terdapat pula makam-makam para sultan yang menjadi
tempat ziarah.
D.
Masjid Agung Banten Lama Sesudah Revitalisasi
Hasil
dari penataan atau revitalisasi menjadikan komples Banten Lama menjadi bersih
dan lebih rapi dengan tidak adanya pedagang pedagang yang berkeliaran dan
mendirikan gerobak kaki lima, dan halaman di sekitar masjid sudah dipasangi
paving block menggantikan hamparan ialang. Dan memang penataan yang dilakukan
oleh Pemprov Banten ialah dari kebersihan, penataan pedagang kaki lima,
pemisahan zona-zona khusus yang memiliki nilai sejarah, serta perbaikan
kanal-kanal yang ada di sekitar kawasan tersebut. Penataan ini bertujuan agar
pengunjung yang datang ke daerah wisata Banten Lama merasa nyaman. Selain itu,
melestarikan nilai-nilai sejarah yang berada di kawasan Banten Lama.
BAB III
HASIL MINI RISET
Setelah
melakukan observasi, penulis memperoleh data dari berbagai pengunjung Masjid
Agung Banten Lama. Terdapat berbagai
macam pengunjung yang kami wawancarai mulai dari orang yang sudah menikah, belum
menikah, pelajar dan lainya. Pertama kami menanyakan identitas pengunjung yang
didalamnya terdapat nama, jenis kelamin, pendidikan terakhir, usia, pekerjaan,
status perkawinan dan asal sekolah. Kami memberikan empat aspek penilaian
kepada pengunjung Masjid Agung Banten Lama diantaranya yaitu, aspek pariwisata atau sosial budaya, aspek
lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek teknologi.
Dilihat dari aspek pariwisata atau sosial
budaya hampir semua pengunjung berkunjung ke masjid agung banten lama bersama
keluarganya untuk ibadah dan ziarah, mereka berkunjung ke Mesjid Agung Banten Lama
bukan karena melihat keunikan masjidnya saja tetapi karena mereka senang
bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.
Dilihat dari aspek lingkungan, wilayah
Mesjid Agung Banten Lama, Keraton Surosowa dan sekitarnya terlihat bersih
karena menyediakan berbagai kotak sampah yang berbeda sesuai dengan jenisnya.
Karena telah disediakan kotak sampah, sehingga pengunjung tidak membuang sampah
sembarangan dengan begitu pengelolaan sampah di Masjid Agung Banten Lama sangat
baik. Fasilitas air dan sarana ibadah di wilayah Masjid Agung Banten Lama
dikelola dengan baik sehingga tidak ada air yang menggenang dan tidak
mengganggu sarana untuk beribadah karena tempatnya yang bersih sehingga membuat
pengunjung nyaman berkunjung.
Dilihat dari aspek ekonomi, disekitar Masjid
Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan banyak menyediakan oleh-oleh khas
Banten seperti Batik Banten, olahan bandeng, olahan melinjo dan lain
sebagainya. Oleh-oleh tersebut sangat variatif dan harganya sangat terjangkau. Bukan hanya oleh-oleh khas Banten yang sangat
variatif, tetapi oleh-oleh khas Banten dikemas dengan kemasan yang higienis,
menarik dan tertera label Halal. Adapun Jika dilihat dari aspek teknologi,
akses jalan menuju wisata religi sangat lancar dan mudah, terdapat CCTV di area
wisata religi dan terdapar layar TV dibeberapa sudut karena untuk memantau kejadian
disekitar wilayah tersebut, tetapi pintu masuk dan keluar pengunjung belum
terpisah sehingga pengunjung kesulitan untuk mengakses.
BAB
IV
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
hasil wawancara beberapa narasumber (pengunjung) yang berada di Masjid Agung
Banten Lama bahwasanya mereka yang sudah pernah kesana ingin berkunjung lagi
bersama teman, keluarga atau sahabat. mereka berkunjung ke Masjid Agung Banten
Lama ada yang ingin berziarah/berdoa, dan ada yang datang hanya untuk
melihat-lihat dan berfoto. Dapat disimpulkan juga dalam segi kebersihan dan
keamanan cukup bagus dan bersih. tetapi yang harus diperbaiki adalah sistem
untuk para pengunjung pada saat keluar maupun masuk karna hanya terdapat satu
pintu masuk maupun keluar.
DAFTAR PUSTAKA
Laksmi, Bintang Widya. (2017). Masjid Agung Banten:
Perpaduan Tiga Budaya
dalam Satu Arsitektur. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A
365-368.
Raharjo, Supratikno, dkk. (2011). Kota Banten Lama. Mengelola Warisan untuk
Masa
Depan. Jakarta: Wedatama
Widya Sastra.
Sulistyo, Budi. (2012). REVITALISASI KAWASAN BANTEN LAMA
SEBAGAI WISATA ZIARAH. Jurnal Planesa. 3 (1):
12-19.


