Kamis, 19 Desember 2019

Mini Riset Banten Lama

MAKALAH
“STUDI KEBANTENAN “
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Kebantenan
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Enggar Utari, M.Si






Disusun oleh:
Neisya Linggadhellya Dyva      (2224180058)
Riska Oktaviari                          (2224180052)
Alivia Salabila                            (2224180056)
Sri Mega Mulyati                       (2224180102)
Dhian Widya Astuti                   (2224180047)
Serta Ulina Silangit                    (2224180068)




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYAS
2019



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Provinsi banten terdiri dari empat kota dan kabupaten yang terdiri dari Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandenglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang. Dari banyaknya daerah di Provinsi banten menambah pula kekayaan potensi yang ada di Provinsi Banten, baik itu budaya, makanan, atau sejarah.
Salah satu kota yang menyimpan banyak potensi adalah Kota Serang yang sekaligus merupakan ibukota dari Provinsi Banten. Makanan khas daerah yang terkenal dari kota ini adalah rabeg, sedangkan situs bersejarah yang sering orang kunjungi adalah Masjid Agung Banten Lama. Masjid Agung Banten terletak di Kelurahan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Tampat ini merupakan situs bersejarah peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552-1570. Selain sebagai objek wisata ziarah (terdapat makam-makam kesultanan Banten), Masjid Agung Banten juga merupakan objek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.
Kawasan  Banten  Lama  memiliki  potensi  yang  cukup  mendukung  untuk dikembangkan  sebagai  destinasi  wisata,  namun  sampai  saat  ini  karakteristik wisatawan  didominasi  oleh  wisatawan  lokal  dengan  mayoritas  mata  pencaharian sebagai  petani dengan  motivasi  kunjungan  untuk  melakukan  ziarah  terutama dihari libur dan hari besar keagamaan, dengan mengunjungi masjid Agung Banten sebagai   tujuan   utama   dan   makam-makam   para   sultan.   Sedangkan   Kawasan Banten  Lama  sesungguhnya   memililiki   banyak  objek   yang   bisa  dikunjungi, seperti keraton, benteng dan vihara.
Antusiasme orang – orang yang berasal dari dalam maupun dari luar daerah untuk berkunjung ke Masjid Agung Banten Lama semakin besar setelah daerah wisata sejarah tersebut direnovasi. Pada survey ini kita berkunjung ke banten lama dengan menyebarkan kuisoner kepada para pengunjung yang berisikan pertanyaan tentang kegiatan apa yang mereka lakukan di Masjid Agung Banten Lama, bagaimana perasaan mereka maupun keadaan yang mereka lihat di Masjid Agung Banten Lama. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah Masjid Agung Banten lama sudah memiliki fasilitas yang layak untukpara pengunjung dan apakah mereka puas dengan kunjungannya ke Masjid Agung Banten Lama.
B. TUJUAN
a.       Merumuskan  upaya optimalisasi pengelolaan  kawasan  wisata  banten  lama sebagai wisata religi.
b.      Mengidentifikasi kelestarian benda cagar budaya
c.       Menganalisis hubungan hubungan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian cagar budaya di kawasanBanten Lama.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Masjid Agung Banten Lama
Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama SundaPortugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513. Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan juga dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri pada tahun 1552 dengan Maulana Hasanudin yang menjadi raja pertamanya.
Wilayah kekuasaan Maulana Hasanudin meliputi Banten, Jayakarta sampai Karawang, Lampung, Indrapura sampai Solebar. Pada masa pemerintahan Maulana Hasanudin pembangunan kerajaan lebih dititikberatkan pada bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, serta penyebaran dan pemantappan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam. Maulana Hasanudin wafat pada tahun 1570, kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf.
Maulana Yusuf melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Pada masa Maulana yusuf, perdagangan di banten mengalami kemajuan yang pesat. Berkembangnya perdagangan di Banten, menarik minat banyak pendatang dari negeri lain untuk datang dan berdagang di Banten (Sulistyo, 2012)..
Pada tahun 1580 Sultan Maulana Yusuf wafat, kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan yang memerintah sejak tahun 1580 hingga tahun 1596. Maulana Muhammad mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut. Maulana Muhammad meninggal dalam usia muda, kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang putra berusia lima bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putrid dari Mangkubumi. Anak ini menggantikan pemerintahan Maulana Muhammad. Namun sehubungan dengan usia Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir (anak Sultan Muhammad) masih sangat muda, maka untuk menjalankan pemerintahan ditunjuk Mangkubumi Jayanagara. Pada masa pemerintahannya banyak kemajuan di bidang perdagangan, dan untuk pertama kalinya kapal dagang Belanda mendarat di Pelabuhan Banten.
Namun pada masa tersebut terjadi konflik diantara anggota keluarga kerajaan yang hendak merebut tahta kerajaan karena usia sultan masih sangat muda. Barulah pada tanggal 16 November 1624 Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul kadir memerintah Banten. Beliau menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil gelar "Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu alMafakhir Mahmud Abdul kadir. Masa pemerintahan Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir penuh dengan ketegangan antara Banten dan Belanda. Banyak terjadi pertempuranpertempuran kecil antara pihak Banten dan Belanda. Pada tanggal 10 Maret 1651, Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul kadir meninggal dunia dan dimakamkan di Kenari.
Pengganti selanjutnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam masa politik kenegaraan, ia dengan tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten. Pada tahun 1892 Sultan Ageng Tirtayasa wafat dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Banten. Pemerintah Banten selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah ia meninggal, terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya. Belanda ikut campur tangan melalui Van Imhoff yang mengangkat anak pertamanya yaitu pangeran Ratu menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Pemerintahan Banten kemudian digantikan oleh adik dari Sultan Abu‟l Fadhl Muhammad Yahya yaitu Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu‟l Mahasin Muhammad Zainul Abidin (1690-1733). Ia digantikan oleh putra keduanya yang bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733-1747). Pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemberontakan.
Setelah pemerintahan Zainul, sultan berikutnya adalah Pangeran Syarif Abdullah yang diangkat dengan persetujuan Belanda dengan gelar Sultan Syariffuddin Ratu Wakil pada tahun 1750. Pengganti Sultan Syariffuddin Ratu Wakil adalah adiknya yaitu Pangeran Arya Adisantika dengan gelar Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul „Alamin pada tahun 1752 dan putra mahkotanya adalah Pangeran Gusti. Pada tahun 1753, Sultan Abuma‟ali Muhammad Wasi‟ Zainul „Alamin menyerahkan kekuasaanya kepada Pangeran Gusti yang kemudian bergelar Abu‟l Nasr Muhammad “Arif Zainul” Asiqin. Ia wafat pada tahun 1773 yang kemudian digantikan oleh putranya dengan gelar Sultan Abu‟l Mafakih Muhammad Aliyuddin (1773-1799). Sultan ini tidak memiliki putra sehingga digantikan oleh adiknya, Pangeran Muhiddin dengan gelar Sultan Abu‟lfath Muhammad Muhiddin Zainushalihin (1799- 1801). Sultan Muhiddin dibunuh kemudian pengganti selanjutnya adalah putra Sultan Aliyuddin dari selir dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801- 1802).
Pada tahun 1802 kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran Natawijaya. Pada tahun 1803 digantikan oleh putra kedua Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin dengan gelar Sultan Abu‟l Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin atau Sultan Aliyuddin II (1803-1808). Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nasr Muhammad Ishak Mutaqqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. Pada tahun 1813, ketika Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Muhammad Syarifuddin, ia dipaksa turun tahta dan kemudian Kesultanan Banten dihapuskan oleh Pemerintahan Inggris yang menggantikan Belanda di Banten di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Kini masa lalu kesultanan Banten tersebut hanya menyisakan bukti-buktinya. Bukti peninggalan tersebut merupakan saksi bisu kejayaan masyarakat dan budaya Banten di masa lalu, antara lain berupa bekas kompleks Keraton (Sulistyo, 2012).
B. Keunikan Masjid Agung Banten Lama
Banten merupakan daerah dengan letak strategis sebagai pelabuhan sekaligus pintu gerbang masuknya peradaban Islam di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan adanya Masjid Agung Banten yang berdiri kokoh sejak abad ke-15 di utara kota Serang, Banten. Arsitektur dari masjid Agung Banten dapat dikatakan cukup unik, karena merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Belanda. Keunikan ini lah yang menggugah saya untuk membuat Studi Kasus yang membahas lebih dalam mengenai pengaruh budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur bangunan bersejarah ini. Saya menguraikan satu per satu elemen bangunan yang terpengaruh oleh ketiga budaya tersbut. Dengan demikian saya dapat mengerti elemen apa saja yang terpengaruh oleh ketiga budaya tersebut serta mengerti keindahan dari perpaduan ketiga budaya tanpa saling menghilangkan keindahan budaya lainnya.
Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua yang ada di nusantara. Masjid ini merupakan masjid pusat penyebaran agama Islam di Banten. Masjid Agung Banten dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon. Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Jawa Barat. Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan si sebelah utara, barat, dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan benteng/keratin Surosowan di sebelah tenggara. Salah satu keistimewaan Masjid Agung Banten adalah masjid ini dibangun oleh tiga orang arsitektur yang berbeda sehingga mempunyai ciri khas Masjid agung Banten : Perpaduan Tiga Budaya dalam Satu Arsitektur, tiap-tiap arsitektur yang membangunnya. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang telah berjasa merancang Masjid Agung Demak, Masjid Agung Ciptarasa Cirebon dan Masjid Agung Banten. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su. Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek masjid agung Banten. Komplek bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas area kurang lebih 1,3 HA yang dikelilingi oleh pagar tembok setinggi satu meter. Pada tembok sisi timur dan barat masjid masing-masing terdapat dua buah gapura di bagian utara dan selatan yang letaknya sejajar dan berdiri di atas pondasi stinggi kurang lebih satu meter di atas halaman. Ruang utama masjid ini memiliki bentuk persegi panjang dengan luas 25 x 19 meter.
Arsitektur Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik dan metafisik bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan muslim. Pemikiran islam di sini termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai ajaran islam seperti penghambaan pada Allah, hubungan baik sesama makhluk hidup, dan nilai-nilai Islam lainnya. Dalam hal ini, arsitektur islam tidak hanya berbicara tentang bentuk-bentuk, lebih dari itu berbicara tentang kebermanfaatan bagi orang banyak, suasana yang ada pada bangunan tersebut, serta fungsi dari bangunan itu sendiri, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang sudah disebut tadi. Masjid merupakan salah satu produk arsitektur Islam. Gaya dan bentuk masjid sangat terpengaruh oleh budaya, suku, dan etnis pada daerah sekitar tempat di mana masjid itu dibangun pada masanya. Inti dari tulisan ini adalah bagaimana kita bisa memahami peran dari rancangan Masjid Agung Banten yang merupakan sebuah masjid dengan perpaduan tiga budaya arsitektur yang berbeda, yaitu Jawa, Cina, dan Belanda (Laksmi, 2017).
Perpaduan budaya Jawa, Cina, dan Belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten.
a)      Budaya Jawa pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada Masjid Agung Banten terdapat sebuah pendopo di sebelah selatan masjid, yang pada budaya jawa berfungsi untuk tempat berkumpul, musyawarah, dan segala aktivitas yang lebih profan (tidak bersangkutan dengan agama), meskipun memiliki fungsi yang lebih profane, pendopo ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, sesuai nilai-nilai Islam. Pada pendopo ini terdapat umpak batu andesit berbentuk labu ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan serta menunjukkan kemakmuran kesultanan Banten lama pada masanya. Umpak tersebut semakin memperkuat nuansa budaya jawa. Pengaruh budaya jawa ini tentu dibawa oleh arsitek bernama Raden Sepat.
b)      Budaya Cina pada arsitektur Masjid Agung Banten Pengaruh budaya Cina yang paling terasa pada Masjid Agung Banten ialah bentuk atap dari bangunan utama masjid. Atap dari masjid ini memiliki lima susun atap. Ini adalah karya arsitektur China yang bernama Tjek Ban Tjut. Makna dari lima susun atap tersebut adalah rukun Islam, namun yang menarik pada atap ini adalah dua tumpukan atap yang paling atas seakan terpisah dengan tiga tumpuk lainnya, hal ini mengesankan dua tumpukan atap tersebut digambarkan sebagai mahkota dari Masjid Agung Banten.
c)      Budaya belanda pada arsitektur Masjid Agung Banten Pada sisi timur masjid terdapat sebuah menara yang mirip mercusuar menjadi ciri khas Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata, dengan diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km. Dahulu, selain digunakan sebagai tempang mengumandangkan azan, menara ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan senjata. Penggunaan menara pada masjid pada kala itu sebenarnya belum ada di pulau Jawa, ini merupakan pengaruh dari budaya Belanda yang dibawa oleh Arsitek Hendrik Lucaz Cardeel (Laksmi, 2017).

C. Masjid Agung Banten Lama Sebelum Revitalisasi
Sebelum revitalisasi kondisi Masjib Agung Banten Lama terjadi berbagai permasalahan. Permasalahan yang terjadi yaitu menuanya kondisi fisik bangunan bersejarah, Daya tarik Banten Lama yang hanya pada Masjid Agung saja, masih banyak pedagang yang mengelilingi bangunan bersejarah yang terlihat kumuh, masih terdapat beberapa jalanan yang rusak menuju kawasan Banten Lama, kebersihannya pun masih jauh diatas rata-rata, dan banyaknya plang atau petujuk arah yang sudah karatan karena terbuat dari besi sehingga tulisannya menjadi tidak jelas.
Kondisi lingkungan fisik Masjid Agung Banten Lama sebelum revitalisasi juga memprihatinkan. Kondisinya yang  tidak nyaman dari sudut ketersediaan sumber air bersih, dan kebersihan yang tidak terjaga. Begitupun keamanan, kenyamanan dan ketertiban di Kawasan Banten Lama yang kondisinya masih rawan. Parkiran di kawasan Banten Lama sebelum revitalisasi sangat tidak terarah. Parkiran hanya terpusat di satu titik.
Dari berbagai permasalaan tersebut tentunya membutuhkan sebbuah solusi dan pembaharuan. Maka dari itu dilakukanlah revitalisasi. Di samping langkah-langkah yang bentuknya fisik seperti penataan kawasan dan penyiapan infrastruktur untuk mempermudah akses, secara kelembagaan pengelolaan Banten lama juga perlu diperbaiki. Kawasan Banten Lama perlu adanya konsep pengembangan managerial agar kawasan Banten Lama dapat menjadi kawasan obyek wisata yang tertata. Untuk mengatasinya pastilah diperlukan banyak “inovasi wisata” yang sinergi dengan keberadaan Masjid Agung, serta situasi yang lebih nyaman dan menyenangkan sehingga waktu tunggu untuk ziarah ke pelataran Masjid Agung bisa memberi pengalaman yang tak terlupakan. Untuk kegiatan ekonomi masyarakat, perlu adanya tempat yang layak dan memadai untuk berjualan. Selain itu, perlu adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada peningkatan keterampilan teknis guna menciptakan peluang usaha baru, pengembangan usaha, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Secara umum potensi dan daya tarik kawasan Banten Lama terdiri dari beberapa obyek yang bernilai historis tinggi yang dapat dinikmati oleh pengunjung, yaitu terdapat beberapa keraton seperti Surosowan dan Kaibon, Pangindelan, Gedong Ijo, Pangindelan, Museum serta Masjid Agung. Namun kenyataannya, di Kawasan Banten Lama yang menjadi daya tarik sampai saat ini hanya Masjid Agung karena selain pengunjung dapat beribadah, terdapat pula makam-makam para sultan yang menjadi tempat ziarah.
D. Masjid Agung Banten Lama Sesudah Revitalisasi
Hasil dari penataan atau revitalisasi menjadikan komples Banten Lama menjadi bersih dan lebih rapi dengan tidak adanya pedagang pedagang yang berkeliaran dan mendirikan gerobak kaki lima, dan halaman di sekitar masjid sudah dipasangi paving block menggantikan hamparan ialang. Dan memang penataan yang dilakukan oleh Pemprov Banten ialah dari kebersihan, penataan pedagang kaki lima, pemisahan zona-zona khusus yang memiliki nilai sejarah, serta perbaikan kanal-kanal yang ada di sekitar kawasan tersebut. Penataan ini bertujuan agar pengunjung yang datang ke daerah wisata Banten Lama merasa nyaman. Selain itu, melestarikan nilai-nilai sejarah yang berada di kawasan Banten Lama.



(Masjid Agung Banten Lama)


BAB III
HASIL MINI RISET

Setelah melakukan observasi, penulis memperoleh data dari berbagai pengunjung Masjid Agung Banten Lama.  Terdapat berbagai macam pengunjung yang kami wawancarai mulai dari orang yang sudah menikah, belum menikah, pelajar dan lainya. Pertama kami menanyakan identitas pengunjung yang didalamnya terdapat nama, jenis kelamin, pendidikan terakhir, usia, pekerjaan, status perkawinan dan asal sekolah. Kami memberikan empat aspek penilaian kepada pengunjung Masjid Agung Banten Lama diantaranya yaitu,  aspek pariwisata atau sosial budaya, aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek teknologi.
   Dilihat dari aspek pariwisata atau sosial budaya hampir semua pengunjung berkunjung ke masjid agung banten lama bersama keluarganya untuk ibadah dan ziarah, mereka berkunjung ke Mesjid Agung Banten Lama bukan karena melihat keunikan masjidnya saja tetapi karena mereka senang bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.
     Dilihat dari aspek lingkungan, wilayah Mesjid Agung Banten Lama, Keraton Surosowa dan sekitarnya terlihat bersih karena menyediakan berbagai kotak sampah yang berbeda sesuai dengan jenisnya. Karena telah disediakan kotak sampah, sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dengan begitu pengelolaan sampah di Masjid Agung Banten Lama sangat baik. Fasilitas air dan sarana ibadah di wilayah Masjid Agung Banten Lama dikelola dengan baik sehingga tidak ada air yang menggenang dan tidak mengganggu sarana untuk beribadah karena tempatnya yang bersih sehingga membuat pengunjung nyaman berkunjung.
      Dilihat dari aspek ekonomi, disekitar Masjid Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan banyak menyediakan oleh-oleh khas Banten seperti Batik Banten, olahan bandeng, olahan melinjo dan lain sebagainya. Oleh-oleh tersebut sangat variatif dan harganya sangat terjangkau.  Bukan hanya oleh-oleh khas Banten yang sangat variatif, tetapi oleh-oleh khas Banten dikemas dengan kemasan yang higienis, menarik dan tertera label Halal. Adapun Jika dilihat dari aspek teknologi, akses jalan menuju wisata religi sangat lancar dan mudah, terdapat CCTV di area wisata religi dan terdapar layar TV dibeberapa sudut karena untuk memantau kejadian disekitar wilayah tersebut, tetapi pintu masuk dan keluar pengunjung belum terpisah sehingga pengunjung kesulitan untuk mengakses.

(Proses Pengambilan Data)



BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada hasil wawancara beberapa narasumber (pengunjung) yang berada di Masjid Agung Banten Lama bahwasanya mereka yang sudah pernah kesana ingin berkunjung lagi bersama teman, keluarga atau sahabat. mereka berkunjung ke Masjid Agung Banten Lama ada yang ingin berziarah/berdoa, dan ada yang datang hanya untuk melihat-lihat dan berfoto. Dapat disimpulkan juga dalam segi kebersihan dan keamanan cukup bagus dan bersih. tetapi yang harus diperbaiki adalah sistem untuk para pengunjung pada saat keluar maupun masuk karna hanya terdapat satu pintu masuk maupun  keluar.


DAFTAR PUSTAKA

Laksmi, Bintang Widya. (2017). Masjid Agung Banten: Perpaduan Tiga Budaya
dalam Satu Arsitektur. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A 365-368.
Raharjo, Supratikno, dkk. (2011). Kota Banten Lama. Mengelola Warisan untuk
            Masa Depan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Sulistyo, Budi. (2012). REVITALISASI KAWASAN BANTEN LAMA
 SEBAGAI WISATA ZIARAH. Jurnal Planesa. 3 (1): 12-19.

20 komentar:

  1. Mantulll. Mk stuban terakhir bikin kayak ginian. Wkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Terbaik lah, πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  3. bermanfaat banget..
    😊😊

    BalasHapus
  4. Terimakasih untuk informasinya

    BalasHapus

Survei Minat Konsumen